Perjuangan atas iman
30 Aug 2010 Leave a Comment
in Religi Tags: iman, islam, jalaludin rahmat
Iman adalah sebuah kepercayaan yang melebihi akal pikiran dan logika kita, bukan berarti agama mengajarkan kita tidak boleh berpikir atas jadi diriNya, sebab terkadang akal dan logika kita sering kali salah dan butuh waktu yang lama untuk mencapai proses pembenaran.
Coba kita lihat jaman dahulu bumi diartikan tidak bulat, dan diartikan sebuah lempeng kotak yang besar dan tak berujung, tapi lama-kelamaan da teori itu salah dan bumi diartikan bulat setelah beberapa tahun lamanya sampai sekarang ini.
Proses pembenaran itu butuh waktu, dan jika itu dipakai dalam sebuah agama, dalam menuju proses pencarian maka sedikit kita akan melupakan iman serta tergantung pada logika umur kita. Bagaimana jika logika belum menemukan pembenaran sampai kita meninggal, mungkin sampai meninggal dunia kita masih belum memiliki iman karena masih dalam proses mencari kebenaran.
Saya jadi teringat tentang sebuah ceramah di masjid Gading Regensi,
si penceramah sedang menceritakan sebuah karya Jalalludin Rahmat, tentang Raja Kafir dan Raja Muslim.
“Alkisah disebuah pulau kecil hidup seorang raja kafir dan raja muslim, suatu hari mereka mempunyai penyakit yang sama dan jika tidak di obati maka penyakit itu bisa membunuhnya. Alhasil raja kafir mendapatkan obat itu dan raja muslim meninggal. Hal ini membuat protes malaikat kepada Tuhan, kemudian Tuhan berkata bahwa sekafir-kafirnya orang dia pasti pernah melakukan kebaikan, dan semuslim-muslimnya manusia pasti pernah melakukan sebuah kesalahan. Tuhan membalas amal kebaikan raja kafir dunia ini dengan sebuah kebaikan dan kebahagiaan, tapi di akhirat pasti akan kena siksa yang pedih. Tuhan memberikan penderitaan atas dosa-dosa raja kafir agar dosa-dosa raja kafir terhapuskan dan mendapat kebahagiaan di akherat”
Ya… disitulah sebuah keadilan yang butuh kadar iman yang tinggi, dan secara logika pikiran kita seharusnya Raja Kafir itu MATI…
tapi Allah punya pendapat dan keputusan sendiri, Allah sangat Maha adil, dan janji-janji dalam kitabNya tak kan pernah di pungkirinya, untuk itulah kita harus pergunakan logika iman, dan itu harga mati yang tidak bisa di tawar.
Sering ketika melakukan sebuah kebaikan malahan kita mendapat balasan yang tidak mengenakkan, seperti kata pepatah, “air susu di balas dengan air tuba” tapi kenapa kemudian kita putus asa dalam hal kebaikan, tidakkah kita pernah melakukan sebuah kesalahan, seharusnya kita intropeksi diri dan jangan pernah menyalahkan Tuhan kita…!!!! (salahkan diri anda)
Saya jadi ingat ketika mengikuti sebuah pengajian di daerah metro margahayu yang ustadnya sedang bercerita tentang pengalaman dia sewaktu menjadi sebuah wartaman di sebuah pedalaman kalimantan.
Pihak pemerintah ingin membangun sebuah jalan namun terhalang oleh sebuah pohon yang besar dan menurut para Tetua suku disana terdapat penunggu yang memiliki kekuatan besar. sudah puluhan kontraktor menyerah untuk mengambil tender pembuatan jalan tersebut. Gergaji mereka tidak mempan memotong kayu tersebut dan sering terjadi hal-hal yang aneh, bahkan tidak sedikit pemerintah setempat melakukan ritual agama bahkan sampai habis ratusan juta rupiah untuk mengusir Roh yang ada dalam pohon tersebut.
Alhasil pemerintah setempat menyerah dan melempar tender itu ke pihak asing (orang kafir). Sungguh ajaib, orang-orang kafir itu meletakkan Dinamit di seluruh pohon dan BooM.. pohon itu hancur seketika…
orang-orang kafir pun berpesta dengan para wanita dan mabuk-mabuk di tengah hutan merayakan pestanya tapi tidak terjadi apa-apa dengan mereka.
sedangkan penduduk desa setempat jika memakai celana pendek di tengah hutan atau tidak memakai baju yang tak sopan saja sudah bisa kesurupan, ini orang kafir sakti banget
nah disitulah logika iman harus dimainkan, tak selamanya rasa kebahagiaan itu terbaik buat kita,
namun rasa sakit, penderitaan itu lebih banyak untuk membuat kita menjadi kuat, dan tegar dalam segala cobaan.
apakah para rasul, nabi , dan wali hidupnya lebih banyak senangnya?
kenapa kita harus selalu mengeluh di dunia ini jika ada sebuah perjuangan dan kisah selanjutnya setelah kematian??
dan apakah kebahagiaan ini hanya untuk di dunia ini saja??
Yups… bukan berarti kita harus menderita hidup dunia, yah… jika anda bisa bahagia didunia ini lakukan, dan tetaplah pada jalur agama, atur dan tata niat, tujuan kita.
Semoga kita tergolonng manusia yang bisa bahagia dunia akhirat….
Semaaaangggaaaaat